Kamis, 20 Februari 2014

Belajar dengan cara Lain di Thailand


"Orang-orang bepergian karena mereka jadi belajar hal-hal yang tidak bisa mereka pelajari dengan cara lainnya" -Lance Morrow-


Saya memilih menuju utara, melihat budaya dari Northen Thailand dan Peninggalan-peninggalan Kerajaan kuno yang menjadi asal muasal kerajaan Bangsa Thailand. 

Chiang Mai - Chiang Rai

Lanna, Phayao, Sukhotai merupakan kerajaan-kerajaan kuno di Thailand yang ada disebelah utara. Pagi itu Saya tiba di salah satu Ibukota Kerajaan kuno -Kerajaan Lanna, Chiang Mai dengan disambut udara dingin Negri Mawar dari utara itu. 

-Penyambutan Tamu Thai dari Chiang Mai-
-Tempat foto: Thai Village Siam Niramit, Bangkok-

The Temple
Di Thailand, terdapat 2 macam tipe Pagoda. Pagoda Northen (Lanna) Style dan Pagoda Sourthen Style


-2 Style Pagoda di Thailand-
-Tempat foto: Thai Village Siam Niramit, Bangkok-

White Temple
Di Chiang Rai (Wilayah Kerajaan kuno Lanna) terdapat Temple dengan style berbeda dengan style Temple di Thailand pada umumnya. Mayoritas Temple di Thailand berwarna coklat dan emas. Temple ini tampil berbeda dengan warna serba Putihnya.

Menakjubkan! Saat ingin melihat isi dalam temple, kami melewati sebuah jembatan...melihat di kanan dan di kiri jalan tangan-tangan "menyembul" dari tanah keatas. Pemandangan bagai surga dan neraka. 




Hill Tribe

Di Chiang Rai, ada beberapa Suku pedalaman yang mendiami Hutan dan pegunungan mereka. Mereka berasal dari beberapa negara seperti Myanmar, Laos, dan Cina. Mereka datang ke Thailand untuk mencari kedamaian. 

-Akha-

-2 Style Pagoda di Thailand-
-Tempat foto: Thai Village Siam Niramit, Bangkok-



-Suku Karen-

Suku Karen di Thailand dibagi menjadi 2 kelompok besar sako-karen dan pow-karen. Kelompok-kelompok kecil nya Kaya dan Pa-o. Kebanyakan rumah Karen dibangun di kaki bukit, lebih rendah dari suku-suku lainnya. rumah mereka dibangun lebih tinggi dari tanah, meninggalkan ruang bawah mereka untuk pertemuan keluarga dan untuk kegiatan sehari-hari seperti memotong kayu bakar dan menumbuk beras. juga pada malam hari tempat berfungsi sebagai tempat untuk hewan peliharaan mereka. Karen punya rasa hormat yang mendalam para Biksu dan para tetua. Jika ada pertengkaran di antara penduduk desa dan para tetua bertanggung jawab untuk memulihkan perdamaian. 

-Saya dan Long Neck-

Para wanita memakai Gelang di leher dengan alasan:
1. Perlindungan diri dari serangan binatang buas (Pria tidak memakainya karena dianggap pria bisa melindungi dirinya sendiri)
2. Lambang kecantikan Karen. Semakin panjang lehernya, semakin cantik.

Saat disana, saya mencoba mengangkat dan memakainya di Leher saya. Wow! masa iya mereka beneran pake itu setiap saat ya? itu berat banget ...dan tidak nyaman di leher (menurut saya). Baru make sebentar aja kalo saya uda g tahan..Mereka hebat!


-Karen, dengan Gelang di leher dan hiasan di kakinya, sedang menenun-

-Suku Palong-




Suku Palong memakai kain sarung berwarna merah untuk bawahannya dan Pakaian berwarna gelap (biru tua / hitam). Yang lebih muda memakai penutup kepala berwarna putih, sedangkan yang tua memakai penutup kepala warna hitam. Mereka mengunyah sirih untuk menghitamkan giginya.

-Other hill Tribe-




Suku ini menggunakan pakaian warna tua dengan bulu-bulu merah di bagian tengahnya. Hasil Kerajinan mereka adalah sulaman. 

Golden Traingle


Golden Triangle merupakan titik berpatasan antara Thailand, Laos, dan Myanmar. Kami menaiki Boat untuk menyusuri perbatasan tersebut. Dahulunya disini terkenal dengan perdagangan Ophium. 



Sejenak, kami berhenti di Laos. Yak! proyek 1 tahun 2 negara saya has done :) (Walau cuma menginjak Laos 30 menit ;p ). Kami melihat kerajinan-kerajinan dari Laos, kain-kain khas laos, dan barang dagangan lainnya. Yang menarik disini adalah dijualnya snake whisky. Hyaks...gimana coba rasanya...



Ayutthaya

Ayuttayha merupakan Tempat Kerajaan kuno Ayyuthaya berada. Mereka berkembang mengalahkan dinasti kerajaan Sukhotai. Pada tahun 1700-an, kerajaan Ayuttayha diserang oleh Burma. 




Siang itu saya mengelilingi kota ayutthaya menggunakan motor. Kami menyewanya dari depan stasiun Ayutthaya. Saat berkeliling, kami melihat banyak peninggalan-peninggalan kerajaan tersebut. Hampir di setiap sudut kota, terdapat reruntuhan bangunan kerajaan.

Wat Khun Muang Chai


-Wat Khun Muang Chai-
-Kami melihatnya dikanan jalan, saat kami pertama kali mengelilingi kota-

Wat Lokayasutharam


-Patung Budha Tidur di Wat Lokayasutharam-

Di tempet parkir di depan patung ini, kami bertemu dengan orang Indonesia. Kami mengenalinya karena tetiba denger suara-suara bahasa yang kita kenal. Namanya Mutia. Dia dan 1 orang temannya memutuskan keliling ayutthaya menggunakan sepeda. Niatnya mau ngirit, ternyata saat ngunci sepeda, nomor kombinasinya berubah dan mereka bingung harus diapain. akhirnya mereka sewa pick up buat ngembaliin sepeda itu ke persewaan semula. 

Vihara Phra Mongkon Bophit


-Patung ini merupakan patung Big Buddha berlapiskan emas-

Ini pemandangan yang kita lihat di sekitar Vihara. 


Ketika melewati sebuah kolam, saya melihat 2 orang emba-emba membeli daun bayam, kemudian mereka mendekati kolam dan berdoa. entah apa. dan kemudian melemparkan bayamnya ke dalam kolam. 


Di pohon-pohon dekat dengan kolam, saya melihat beberapa patung yang ditaruh disekitar akar-akar pohon. Saya juga baru lihat ada fanta yang diletakkan di sekitar patung-patung tersebut. apakah ini yang disebut persembahan?

Wat Phra Si Sanphet

-Wat ini merupakan tempat penyimpanan abu Raja. 1 stupa, 1 abu raja-

Bangkok
Kerajaan Ayutthaya runtuh karena diserang oleh Burma. Lalu Kerajaan berpindah ke Bangkok. Sampai saat ini, kompek Kerajaan Thailand terletak di jantung kota Bangkok. 

Grand Palace

Istana Tempat tinggal raja Kerajaan Thailand. 



Rumah Traditional Thailand


-Rumah Traditional dan Barang-barang traditional Thailand-

-Tempat foto; Thai Village, Siam Niramit, Bangkok-

Makanan Traditional Thailand


-Northen Style Omelet (alias telur bakar), Rice Pudding-
-Tempat foto: Thai Village, Siam Niramit, Bangkok-

Pekerjaan Traditional Thailand

-Petani, Pembuat benang, Menenun, Melukis-
-Tempat foto: Thai Village, Siam Niramit, Bangkok-

People

Warga Lokal Thailand memberikan banyak pelajaran bagi saya. Sikapnya yang begitu ramah, tutur katanya yang halus, dan sikap saling tolong menolong yang begitu terasa membuat saya betah berlama-lama disini.

Disetiap sudut kota, kami melihat foto raja terpasang dimana-mana. Mereka sangat menghormati rajanya. Ada beberapa kali saya melihat, ketika driver Taxi melewati Grand Palace, mereka menyempatkan diri untuk memberikan salam pada Grand Palace.

Setiap pukul 08.00 Pagi, ditempat-tempat umum, selalu diperdengarkan lagu kebangsaan Thailand. Ada aba-aba dimana kami harus berdiri semua, dan mendengarkan lagu kebangsaan diperdendangkan, sambil menghadap foto sang raja. 



------------------------------------------------------------------------------------------
Oya..Semua rangkuman asal muasal Bangsa Thailand dan kepercayaan mereka bisa dilihat di Siam Niramit Show. Sebuah Pertunjukan Traditional Thailand yang dikemas dengan sangat apik dan menakjubkan.


------------------------------------------------------------------------------------------

-One destionation is never a place, but rather a new way of looking at things - Henry Miller



Salam, 





















-Indah Kusumastuti

Rabu, 19 Februari 2014

5 Hari di Thailand #MybackpackerItinerary

"Screw the map – travel and get lost!" -Gomio.com-


Membuat sebuah itinerary selalu menyenangkan bagi saya.
Akan sedikit pusing dan menyita waktu memang, tapi selalu ada sebuah pelajaran baru saat membuat itinerary perjalanan.

Kenapa harus backpacker dan tidak ikut paket tour saja?
1. Karena Budget saya terbatas
2. Bebas mau kemana saja semau kita
3. Bebas mau ngabisin waktu berapa lama ditempat itu
4. Interaksi dengan Turis Lain, ngobrol, tau lebih banyak tentang negara lain
5. Interaksi dengan Warga Lokal, cara mereka berperilaku, budaya mereka, cara mereka memperlakukan kita
6. Belajar tentang semua alat transportasi yang ada di Kota itu
7. Just enjoy your Tour and Time 

"Please be a traveler, not a tourist. Try new things, meet new people, and look beyond what’s right in front of you. Those are the keys to understanding this amazing world we live in – Andrew Zimmern"

Thailand...Lalu kita mau Kemana?



Saya hanya memiliki 5 hari di Thailand (dengan Budget Terbatas tentunya)
Jika tidak terbatas, tentu saja saya akan memilih : Chiang Mai - Bangkok - Pattaya - Ayuttaya - Phuket

Sebuah Pilihan, Chiang Mai atau Phuket? Saya harus benar-benar memutuskannya, karena 1 ada di utara, 1 ada diselatan. kecuali saya punya banyak uang untuk beli tiket pesawat connecting chiang Mai - Phuket. Saya bisa dapet semuanya. Tapi tidak sekarang, tidak dengan budget saat ini ;p

Chiang Mai: Chiang Mai itu pegunungan, melihat landscape gunung, temple, Hill Tribe (semacam suku pedalaman mereka), dan menuju perbatasan 3 negara
Phuket: Kita akan melihat landscape Laut, bawah laut, dan Keindahan Pantai-Pantainya

Perlu waktu untuk berfikir, sampai akhirnya saya memutuskan untuk ke Utara. Tujuan Saya ke negara lain untuk menjadi traveler, bener-bener ingin mengetahui tentang negara itu dari segi orang dan budayanya. jadi saya memutuskan ke negri mawar dari utara.

Jumat, 14 Februari 2014

*Klik Pict untuk melihat detail itinerary perjalanannya

Sabtu, 15 Februari 2014

*Klik Pict untuk melihat detail itinerary perjalanannya

Minggu, 16 Februari 2014

*Klik Pict untuk melihat detail itinerary perjalanannya

Senin, 17 Februari 2014

*Klik Pict untuk melihat detail itinerary perjalanannya

Senin, 18 Februari 2014

*Klik Pict untuk melihat detail itinerary perjalanannya

Total Biaya Perjalanan 5 hari di Thailand: Tiket PP Thailand + penginapan + biaya hidup disana + Transportasi + Objek wisata + Pertunjukan + Oleh-Oleh Rp 5.000.000

Thailand...Lalu Butuh Nuker Uang berapa? 

Na...buat traveler kaya saya, dengan budget terbatas, saya harus benar-benar menyiapkan itinerary. Biar budgetnya pas, tempatnya dapet, dan perhitungan uang asing nya g mubazir. Karena kalo punya pecahan, kadang suka susah nuker lagi.

Jadi saya bener-bener perhitungkan, mana yang harus dibayar pake uang Bath, mana yang bisa dibayar pake Kartu Kredit, mana yang harus pake uang Rupiah :)


Thailand...Lalu kita harus Naik apa?

Transportasi di Thailand ada bermacam-macam. Lebih tepatnya, variasi transportasi umum lebih banyak ada di Bangkok. Saat ada di Bangkok, saat nya nyoba berbagai macam alternatif transportasi

Tuk - Tuk
Ini ni citranya Thailand..semacam motor yang dimodif...semacam becak motor, tapi motornya didepan, bukan dibelakang. Kalo naik taksi, ngebut uda biasalah ya..

Anda harus coba ngebut ala Tuk-tuk... jadi inget adegannya Pangeran Shin di kejar-kejar pers di Thailand. Ini asik! badan goyang kekanan kekiri, dan karena tuk-tuk itu kebuka, jadi ya angin kencang kemana-mana ... waktu itu kebetulan saya cm tgl punya waktu 1/2 jam untuk beli oleh-oleh..tapi belum dapet juga dan harus ganti toko...jadilah saya dibawa kebut-kebutan oleh si Tuk-Tuk

Taxi - Meter
Di Bangkok, hampir semua tempat ada taxi, dan warnanya bermacam-macam. Ada pink, hijau, kuning, biru..meriah sekali jalanan Bangkok dengan berbagai warna taxi. Kalau di Jakarta atau bogor kita lihat hampir setiap tempat ada angkot...naa..seperti itulah penampakan taxi di Bangkok. Tarif bukaannya 35 B.

Menurut pengalaman saya selama 5 hari disana, saya sangat suka memakai Taxi berwarna Kuning-Hijau. Kenapa? Driver-drivernya selalu sopan, mereka bisa baca peta yang kita tunjukin, dan kadang ada beberapa yang bisa bahasa inggris (walau sedikit-sedikit). 

Oya..waktu kita dari sombat tour mau ke hotel, kita hanya punya foto hotel, alamatnya dalam bahasa latin, dan print Map hostel. Saya benar-benar lupa google tentang nomor hotel dan menyiapkan tulisan Thai-nya. jadilah si driver bingung, karena g bisa bacanya, kita juga bingung dan panik cari nomor telp hostel dan mencoba menjelaskan posisi hostel. Setelah muter-muter sambil terus mencari nomor telp, akhirnya kita dapet. Drivernya bener-bener baik...jadi merasa bersalah ;p

Hampir disetiap taxi, dibagian spion tengahnya, mereka menggantungkan kalung bunga berwana kuning, merah / putih. Kalau di indonesia semacam tasbih dikalungin di spion kali ya. Dan ada juga beberapa taxi yang didepan kemudinya, dipajang foto sang raja. Mereka benar-benar menghormati rajanya.

Airport Link
Dari Bandara suvarnabhumi ada beberapa cara menuju ke pusat kota. Kemarin saya mencoba 2 mode transportasi ini, city Line dan Express Airport Link. 

Cityline berhenti di setiap stasiun, tarifnya 45 B jadi waktu yang diperlukan untuk ke arah kota lebih lama. dan kebanyakan orang-orang memkaianya juga, jadi jika anda membawa koper yang besar atau banyak akan menyusahkan jika memakai city line di jam padat. 

Express airport link tarinya 90B. dari suvarnabhumi airport langsung menuju Phaya Thai (Tanpa mampir-mampir ke stasiun lainnya), waktu yang diperlukan juga lebih cepat.

BTS Sky Train


Kereta dengan jalur khusus diatas jalan-jalan diatas kota bangkok. Kartu nya bisa kita beli di mesin otomatis. Tapi bayarnya harus pake receh. Jadi kalau kita punyanya uang kertas, kita harus tuker uang kertas dengan uang receh ke petugasnya, trus baru de beli Tiketnya. 

Di mesin otomatis, tercantum peta BTS dan angka disetiap stasiunnya. Angka itu menunjukan uang yang harus kita bayar kalo kita menuju stasiun itu. Jadi cukup liat, tempat tujuan stasiun kita, lalu klik angka sesuai yang tertera disitu, masukkan koinnya, lalu muncul kartunya.


Waktu mau masuk ke gate nya, cukup masukin kartu ke lubang yang tersedia, nanti kartu akan mucul dari lubang lainnya. ambil kartu, dan pintu gatenya akan terbuka. Kalo pas mau pulang, cukup masukan kartu ke lubang yang tersedia... Kalau pake tiket terusan (seperti KRL), cukup tap aja di atas mesin setiap kali kelaur masuk.
MRT
Kereta bawah tanah dibangkok, tiketnya bisa dibeli di mesin otomatis juga. Petanya nanti muncul di layar, trus tinggal touch aja di stasiun tujuan, nanti akan muncul harga yang harus dibayar. Jangan lupa klik tulisan English, kalo engga..tulisannya akan berbentuk tulisan Thai. Na..kalo MRT g perlu tuker-tuker uang receh, karena bisa pake uang receh / pake uang kertas. 



Tiketnya berbentuk koin plastik, cukup di tap aja ke mesin otomatis, kalo mau keluar, tinggal dimasukin ke lubang yang ada. 

Bus
Bus Kota
Sejauh yang saya tau, di bangkok ada 2 macam bus. AC dan non AC. yang AC bayar 12 B, yang non AC 10 B, Jauh deket sama aja harganya. Saya sudah mencoba kedua-duanya, rute hostel-monument. Tempat duduknya beda dengan trans Jakarta. Kalo trans Jakarta kesamping semua, kalau bus disni, ada yang kesamping ada yang kedepan. 

Bus disini juga hanya berhenti di setiap Bus Stop. Tapi tidak ada yang bilang, ini udah sampe halte mana, jadi pastikan anda tahu patokan bangunan disekeliling halte jika ingin menggunakan bus. Dan juga, tulisan di halte bus adalah tulisan Thai, jadi saya juga tidak bisa memastikan saya sampai di halte mana. 

Kalo mau naik bus kota, buka saja transitbangkok.com, nanti akan keluar rute bus. Anda tinggal melihat nomor yang ada didepan bus dan memastikan itu diarah yang benar. 

Bus Antar Kota
Travel Bus yang terkenal di Bangkok adalah Sombat Tour. Kemarin saya coba bus ini ketika perjalanan ke Chiang Mai. Hampir semua bus Jarak jauh adalah bus tingkat. saya bayar 563 bath (kelas paling rendah di sombat tour) untuk rute bangkok - Chiang Mai.


Fasilitasnya: Tempat duduk dengan tempat kaki, selimut, bantal, air mineral, minuman strawberry, dan snack roti 2 biji. 

Rasanya asyik pake bus tingkat ke Chiang Mai. Jarak chiang Mai - Jakarta hampir seperti Jakarta - Jogja. Kami dijalan selama 10 jam. Tadinya saya sempat cemas, karena paginya saya ada tur jam 08.00. Takut busnya telat (seperti di Indonesia, kadang ada yang bisa telat sampai berjam-jam karena jalanan macet). Tapi disini, g perlu khawatir sepertinya untuk perjalanan malam luar kota, karena sepanjang perjalanan tidak padat seperti perjalanan Jakarta-jogja atau jakarta-semarang. Kami pun sampai di Chiang Mai pas pukul 06.00 pagi. 

Boat

Untuk mengarungi Chao Praya, kita bisa memilih ingin memakai Public Boat atau Tourist Boat. 
Public Boat : Harga 15 B, jauh dekat sama saja. Berhenti disetiap dermaga kecil
Tourist Boat : Harga 150 B, bisa dipakai 1 hari kemanapun. 

Thailand...Lalu kita Menginap Dimana?

Ada berbagai macam tarif hotel dan hostel di Thailand. Tinggal buka Agoda.com, dan semacamnya. saya mencari hostel yang kisaran 100-125 ribu per malam. Kalau dulu saat di Malaysia atau singapur, saya memilih Hostel backpacker Dorm female (dimana 1 kamar bisa isi 6 tempat tidur dan campur dengan orang lain). 
-We Believe Hostel-

Kali ini saya memilih Private Room, karena harganya jika dibagi dua sama dengan harga 1 dorm. 125.000 per orang 1 malam, kamarnya asik, ada ACnya, share bathroom, interiornya juga keren. Tapi memang agak jauh dari kota. Keuntungannya, kami bisa asyik mencoba mode transportasi di Bangkok. kerugiannya terkadang jika butuh cepat, ada driver taksi yang tidak mengerti dimana tempatnya. Tapi kalo pake Taxi kuning hijau, mereka selalu mau mengantar dan bisa membaca petanya :)

Kalo kawasan penginapan backpacker yang terkenal dibangkok adalah kawasan Khaosan Road. Seperti gang - gang yang ada di Malioboro, hampir semua backpacker menginap di Khaosan Road. Dekat dengan Tempat-tempat wisata di sekitar kota dan banyak pilihan makanan disekitarnya. 


Thailand...Lalu kita Makan Apa?


Lumayan susah memilih makanan di Thailand ini, karena hampir disetiap tempat mengandung "Pork". Kami memilih makanan yang safety-safety saja. seperti Chicken Noodle Soup, KFC, dan MCd. Biasanya kita makan nasi hanya sekali sehari karna susahnya mencari makanan halal. Tapi bukan hanya karna itu, alasan lebih tepatnya karena kami sudah terlanjur kekenyangan makan street food di Thailand



Thailand...Lalu kita Belanja Dimana?


Saat di Thailand, saya sempat mengunjungi berbagai tempat perbelanjaan. Tidak banyak, karena niat saya ke negri ini memang bukan untuk Belanja. Kami menyempatkan diri melihat:

Chatuchack Weekend Market

Chatuckak weekend market merupakan pasar terbesar. Disana dijual berbagai macam jenis barang, mulai dari pakaian, souvenir, barang-barang pajangan rumah, barang-barang unik lainnya yang belum pernah saya temukan, dan tentu saja kuliner makanan.


Platinum

Platinum menjual banyak macam barang. Namun mayoritas yang dijual adalah pakaian (semacam baju-baju korea yang sekarang marak di OL Shop). Untuk toko souvenirnya ada di Lt. 6, namun hanya sedikit toko yang ada disitu.

Pratunam Market

Susah bagi kami untuk menemukan Pratunam, karena kami membayangkan bentuk gedung pratunam sama dengan Platinum. Ternyata Pratunam Market semacam Jualan di pinggiran malioboronya dengan los-los yang ada disamping-sampingnya. Saya membeli gajah gold pesenan temen saya. disitu saya lumayan dapet murah.

Asiatique

Tidak sengaja pergi ke Asiatique. Waktu itu kami hanya bingung, akan mencari makan malam dimana dan menikmati malam di kota bangkok ini dengan cara apa. Akhirnya setelah ngenet-ngenet, tercetuslah ide ke Asiatique. Naik BTS ke saphan Taksin dan kami naik boat gratis menuju asiatique.

Malam itu kami menikmati malam dengan mengarungi Chao Praya River selama 15 menit. Makan malam di KFC dengan chicken spicy nya (dimasak dengan bawang bombay dan daun mint), dan melihat-lihat barang-barang di Asiatique. Banyak souvenir dijual disini, banyak juga barang lucu-lucu yang dijual disini.

Kalau saya pergi ke Thailand lagi, untuk belanja saya akan lebih prefer ke Asiatique. Karena semua titipan teman-teman saya sebenarnya ada disana. Mulai dari tas, dompet, rok, hiasan dinding, patung gajah, oleh-oleh gantungan kuci, bahkan milk tea nestea yang selalu dibicarakan untuk oleh-oleh pun bisa dibeli disini.

Saya memilih Chatuckack weekend market untuk street foodnya. Banyak sekali pilihan makanan disini, unik, dan g ada di Indonesia. Mungkin saya tidak akan ke pratunam dan Platinum lagi, karena bukan tipe Belanja saya..;p


Thailand...Lalu Ngobrol dengan siapa saja disini?

Warga Lokal

Namanya Pew (saya tidak tahu cara menuliskan namanya, tapi pengucapannya seperti ini), seorang warga lokal berumur 20-an yang mengantarkan saya ke sombat tour. Pertama kali kami menginjakan kaki di kota Bangkok, kami salah tempat. Tadinya saya ingin menuju Mo Chit Bus Station, namun kita malah naik BTS ke mo Chit station. Saya kira itu tempat yang sama. Waktu kami tanya ke warga lokal, dia sebenernya tau tempat itu..namun tidak bisa menjelaskan dengan bahasa yang kita mengerti. Waw...welcome to the jugle. dimana mayoritas orang disini tidak bisa berbahasa Inggris dan membaca tulisan Latin. 

Pew Baik banget..dia tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, tapi dia menuntun kami sampai mendekati tempatnya. namun karna susah dan dia pikir agak jauh kalo jalan kaki, akhirnya kami masuk kesebuah taxi, diantar dia juga. Sampai ditempatnya, ketika saya mau bayar malah dilarang sama dia. dengan bahasa tarsannya, kira-kira dia berkata begini " sudah, saya saja yang bayar taxi-nya"

Driver Taxi
Karena kami sering naik taxi, kami sering berinteraksi dengan driver taxi. Namun lagi-lagi...mereka cuma bisa bahasa Thailand dan tulisan Thailand. Jadi..prepare ya kalau disana, siapkan map yang ada tulisan Thai-nya atau print tulisan Thai di tempat-tempat yang ingin kita tuju, biar bisa sampe tempat dengan tepat.

Banyak yang pengen saya obrolkan dengan driver-driver taxi sebenernya. Seperti kenapa mereka selalu menaruh bunga di kaca spion depannya, kenapa mereka menaruh foto sang raja dimobilnya, kenapa di sudut-sudut jalan yang kami lewati selalu ada foto raja-raja mereka, kenapa setiap mereka melewati grand palace, mereka selalu menyempatkan diri berpose seperti memberi salam ala "Thai"..kenapa, kenapa dan kenapa...hiks...tapi sayang mereka tidak bisa bahasa inggris..

Tourist Asing 
Namanya Shanni. Saya berkenalan dengannya pada saat perjalanan tour di Chiang Mai-Chiang Rai. Shani adalah orang Israel, agamanya Jew. Dia keluar dari tempat dia kerja sekarang demi bisa travelling selama hampir 4 Bulan. dia mengunjungi beberapa negara seperti India, Nepal, thailand, Singapura, dan lain-lain. Orangnya sangat kritis, dia selalu bertanya kenapa begini dan kenapa begitu. Ketika saya shalat di dalam kendaraan yang kami tumpangi, dia bertanya.." bolehkah saya dapet penjelasan, tadi kamu melakukan apa saja", dan saya pun menceritakan tentang shalat. Dia juga menceritakan tentang Jew, kepercayaannya. Tentang Tuhannya, tentang kitab sucinya. 

Saya juga sempet ngobrol dengan tourist asal Jerman saat perjalanan saya dari Bangkok-Ayuttayha. umurnya 51 Tahun. Dia 2 minggu ada di Thailand, untuk pekerjaan dinas. Dia menuju ayuutthaya beristirahat sejenak. Dia bercerita tentang keluarganya. berasal dari Jerman. Dia tinggal di Spain tapi Suaminya tinggal di Jerman. Kami langsung bertanya...jadi selama ini anda berhubungan jarak jauh dengan suami anda? Ya..dia hanya menjawab santai..saya sekarang bukan anak berusia 23 tahun lagi yang kemana-mana harus bersama dan harus dekat. saya sudah mengenalnya sejak umur 16-an dan tinggal bersama, kami menikah di usia 27-an. Dan beginilah hidup kami sekarang.. 

Tourist asal Indonesia
Namanya Mutia. Saya ngobrol dengannya saat perjalanan Ayuttaya-Bangkok. Dia sering travelling ke luar negri, pekerjaannya owner ol Shop... jadi flexible mau jalan kapanpun. Dia bercerita tentang pentingnya asuransi perjalanan yang seharusnya kita punya kalo kita pergi keluar negri. for safe our self. Hari itu kami ngobrol acak. Mulai dari asuransi perjalanan, tiket murah, komunitas backpacker dunia, warung OL shopnya, instagramnya ibu Ani...wah...perjalanan Ayuttaya Bangok sore itu tidak terasa lama karena obrolan kami. 

Thailand...Lalu kita Belajar apa lagi disini?




By, 

















-Indah Kusumastuti-

Senin, 10 Februari 2014

Menikmati Week end Di Jakarta


Jumat sore malas pulang ke kos berakibat : 

1. Ngobrol asik ama team kongkow di area parkir disebelah kantor
2. Diet gagal karna ngikutin bapak-bapak ini makan malam mie Ayam
3. Dapet temen maen Biar Week end g sendirian di kamar nonton film korea doang!

Sabtu, 8 Februari 2014

Pilihan kami untuk menikmati weekend ini jatuh pada "Kota Bogor".
Dengan Niat utama, budget maksimal hari itu Rp 50.000
Kalo bisa uda dapet Kuliner dan wisata kota Bogor.

Kongkow di KRL
Kami berangkat dari stasiun Kranji menuju Bogor (Transit di Manggarai - Menuju Jalur 6, Tempat KRL bogor melaju). Berangkat pukul 10.30 dan tiba di Bogor pukul 12.30. Sepanjang perjalanan, entah apa yang kami bicarain, yang saya ingat kita ketawa sepanjang perjalanan..entah cerita apa aja waktu itu... 1,5 jam perjalanan bogor - bekasi dengan posisi "berdiri" pun jadi tidak terasa lama.

Sepanjang perjalanan juga ada yang uda ribut pengen makan nasi setibanya di Bogor. Maklum, g sarapan dan cuma ditendang sama bekal roti isi susu milo bubuk bikinan Ibu Dian (You Know Who) .Padahal biasanya makan sampe nambah 3x ;p

Meriahnya sambutan pedagang Kaki lima Bogor
Stasiun Bogor. Berharap disambut dengan udara sejuk cenderung dingin, Tapi ternyata yang menyambut kami justru angin panas. Stasiun Bogor besar dan bersih. Ketika keluar dari stasiun langsung disambut oleh rentetan pedagang kaki lima dengan berbagai jajanan, Buah-buahan, tahu sumedang, cilok, batagor, asinan bogor, bakso, es durian...huwaa..lapar matah.

Pilihan kami jatuh pada  makan emperan di sebuah gang kecil didepan stasiun bogor. Ada banyak pilihan disana.Bakso, soto lamongan, soto mie, ayam bakar, dan lain sebagainya. (Pokoknya..intinya makan nasik duluh). Harga Rata-Rata Rp 9 ribu - 13 Ribu

Puas Makan siang dengan nasi, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di trotoar di Kota Bogor. Tujuan kami siang itu adalah Kebun Raya Bogor. Jaraknya kurang lebih 1 - 1,5 kilo antara stasiun - Kebun raya Bogor.

Nah..ini dia...ada juga yang ribut tentang alat transportasi menuju Kebun Raya Bogor. "Apa? jalan lagi?" dan kata-kata ini bisa diulang kaya kaset selama kita ada di Kota bogor ;p. Kami pun hanya tertawa dan menjadikannya bahan perbincangan dan becandaan sepanjang hari ini, karna kata itu bukan keluar dari seorang wanita lemah lembut, tapi dari seorang pria berotot yang hampir setiap hari ke Gym ;p (You Know Who).. Peace Om ! ;p Pas kita nurutin untuk pake angkot menuju ke Pintu utama Kebun Raya Bogor, duduk rapi di tempat duduk masing-masing di angkot..e..malah beliaunya g dapet tempat duduk sendiri, dan terpaksalah jongkok di tepi pintu angkot, sambil terus bertanya.. "mba..beneran ni g ada yang mau turun?" 

Cara Menuju Kebun Raya Bogor
Jalan Kaki : Keluar Stasiun ke arah kiri. Jalan lurus sampe nemu pertigaan istana negara (500m), belok kanan. Jalan skitar 500 m lagi bakalan ketemu sama Pintu gerbang belakang Kebun Raya. Kalo ke Pintu gerbang utamanya kurang lebih 1 km lagih
Angkot : Keluar stasiun, ke arah kiri, naik angkot 02 sampai di Pintu Belakang , atau bisa juga naik angkot 8A dari gate belakang ke gate depan.

Sampai di Pintu Gate Belakang, kami disambut oleh hujan yang tiba-tiba mengguyur dengan derasnya.
Alhasil kami nongkrong disebelah gate, untung ada indomaret dan kantor pos yang ada toilet dan musholanya. Perbincangan kami semakin nyleneh, karna tetiba hujan turun dan khawatir g bisa masuk ke kebun raya karna sudah kesorean. Semakin nyleneh lagi karna tetiba kepikir untuk nerusin Wisata nya ke Puncak....

Pohon, Taman, Hujan Rintik-rintik
Hampir pukul 15.00 sore itu, dan hujan akhirnya reda juga. Kami melanjutkan perjalanan masuk ke Pintu gerbang utama..dan menikmati kebun raya, dengan hujan rintik-rintik. 5 orang dengan 3 payung . Siapa yang modus hayo ngaku? #ehh

-Taman Mexico, Kebun Raya Bogor-

-Jembatan Merah, Kebun Raya Bogor-

-Taman di Depan Cafe Dedaunan, Kebun Raya Bogor-

Macaroni Panggang, di Taman Kencana

Hari ini ditutup dengan Kongkow di Macaroni Panggang, Taman Kencana.
Menu Utama Macaroni Panggang ditambah dengan Pancake Ice Cream

How To get There
Angkot 8A : Kebun Raya Bogor (gerbang utama) - Taman Kencana
Angkot 03 : Jalan dari taman kencana, trus naik 03 ke arah stasiun



Dan yang tadinya niat Rp 50.000, membengkak jadi Rp 90.000 ;p
Yang penting Malem Minggu ga sendirian ;p


Minggu, 9 Februari 


Wse Yang biasanya kalo uda mentok mau ketemuan dimana, akkhirnya memilih "Pelangi" untuk tempat persinggahan. Kini kita berniat buat menikmati Jakarta Kota sambil berfoto ria.


Apa yang bisa dinikmati di Jakarta Kota?

Museum ter-kece, Museum Bank Indonesia

How To Get There?
1. Kereta : Naik KRL Menuju Stasiun Kota
2. Busway: Naik Busway Jurusan Jakarta Kota
Keluar dari gate KRL, belok kanan (keluar dari pintu tersebut), nyebrang ke arah Museum Bank Indonesia (Jalan Kaki 5 menit)

Ke-Kece-an Museum ini :

1. Membentuk sebuah cerita Runtut
Mulai dari Penjelasan tentang rempah - rempah -- Kejayaan masa rempah-rempah -- Pelayaran mencari Rempah-rempah -- Penjajahan -- Sistem ekonomi dimulai -- Adanya kebutuhan Lembaga keuangan -- Perkembangan Bank Indonesia -- Krisis Ekonomi 98


2. Penyajian dan pengemasan benda - benda museum yang unik, kece, modern, dan enak untuk dilihat dan dinikmati

Benda yang dipamerkan / baju-baju Tidak selalu dipajang dalam patung, Pengemasannya ditaruh manarik di lantai dilapisi kaca tebal



 Menggunakan Patung-Patung dengan berbagai aktivitas, sehingga kita bisa membayangkan tentang bentuk orang, pakaian, dan aktifitasnya kala itu




Tampilan foto, perubahan Logo Bank Indonesia terpampang apik
Penjelasan tentang Krisis Ekonomi 98 pun dibuat seolah-olah kita membayangkan menjadi petugas Bank dengan Telp yang berdering setiap saat kala itu


3. Ruangan Ber - AC, Terawat dengan Baik, Bersih dan Nyaman 
Mungkin di Luar negri, ini sudah menjadi biasa, tapi di Indonesia, jarang museum yang bisa senyaman dan seapik ini

4. Ke-kece-an maksimal museum yang segini bagusnya adalah, biaya masuknya Gratis!

-Foto didepan Tumpukan Emas, Museum Bank Indonesia-

Jalan-Jalan Sore di Jakarta Kota


What To Do ?

1. Jajan Jajanan pinggir jalan / Kaki Lima
    Ada banyak pilihan menu kaya kerak telor, otak-otak, batagor, es durian dan makanan aneh-aneh lainnya
2. Sewa Sepeda + Topi


3. Visit Museum Fatahillah
4. Foto - Foto disekitar Museum Fatahillah
    Ada banyak pilihan gaya foto disini. berfoto berlatarkan Museum Fatahillah, atau foto ala vintage, foto
    sama vampir china, atau mungkin foto dengan Pejuang Indonesia.
5. Nongkrong di Caffe Seputaran Jakarta Kota
    Kali ini, kami memilih Batavia Cafe untuk berbincang-bincang dan membicarakan rencana backpacker,
    Update Informasi dan gosip terkini seputaran kita.
    Menu Minuman Mulai dari 25 ribu - 200 ribuan






Menikmati weekend diJakarta itu g cuma pergi ke Mall, Tapi bisa menikmati Hijaunya Alam di Bogor atau menghabiskan sore ditengah keramaian Jakarta Kota.

Salam,



-Indah Kusumastuti-